Era Jokowi Disebut Banyak Pengangguran, TKN: Logika Pikir Sesat

Juru bicara Tim kampanye nasional (TKN) Ace Hasan Syadzily mengomentari penilaian pengusaha nasional Erwin Aksa yang menyebut banyak perusahaan yang rugi serta pengangguran di era pemerintahan Presiden Jokowi. Dia bilang hal tersebut merupakan suatu logika pikir yang sesat.



Juru bicara Tim kampanye nasional (TKN) Ace Hasan Syadzily mengomentari penilaian pengusaha nasional Erwin Aksa yang menyebut banyak perusahaan yang rugi serta pengangguran di era pemerintahan Presiden Jokowi. Dia bilang hal tersebut merupakan suatu logika pikir yang sesat.

Menurutnya, tingkat pengangguran terbuka (TPT) era Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang justru terendah sepanjang sejarah.

"Statistik menunjukkan bahwa angka pengangguran terbuka tahun 2018 sebesar 5,34%, turun dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 5,94%. Angka ini adalah yang terendah sepanjang reformasi," kata Ace, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Ace juga meminta kepada pengusaha nasional Erwin Aksa untuk membuktikan dengan data mengenai jumlah pengusaha yang mengalami rugi, selama kepemimpinan Presiden Jokowi.

Ace menjelaskan lewat kondisi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menurutnya cukup membantah pernyataan Erwin Aksa. Pada 2014 IHSG ditutup pada 5.226 dan pada akhir 2018 ditutup pada 6194 atau ada kenaikan 18,5%. Hal itu menjadi bukti bahwa profitabilitas perusahaan besar secara umum masih baik.

"Erwin Aksa sebaiknya tidak mengklaim apa yang terjadi pada perusahaan dia atau industri tertentu sebagai apa yang terjadi kepada pelaku usaha secara umum. Ini logika pikir yang sesat (logical fallacy)," ujar dia.

Tidak hanya itu, Ace juga mengungkapkan bahwa harga pangan inti terkendali, tercermin dari tingkat inflasi yang terjaga di level 3%. Dengan kondisi seperti itu, Ace membantah bahwa ungkapan Erwin Aksa mengenai banyak perusahaan rugi, pengangguran merajalela, serta daya beli rendah tidak benar.

"Ini adalah yang terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Karena itu tak heran tingkat konsumsi riil masyarakat tumbuh rata-rata 5% per tahun. Pertumbuhan ini sekaligus menjadi bukti bahwa klaim daya beli menurun tidak benar," ungkap dia.

Post a Comment

0 Comments